0
Dikirim pada 16 November 2011 di Artikel

Salat tahajjud biasa juga disebut dengan nafilah al-layl. Disebut demikian, karena salat tahajjud merupakan salat sunnah rutin yang khusus dilakukan pada malam hari. Nafilah artinya sesuatu yang disunnahkan, atau tambahan. Selain malam hari, salat nafilah juga ada yang dilakukan pada subuh (yang disebut dengan nafilah al-shubhi) dan siang hari (yang disebut dengan nafilah al-nahar).

Di sini kita tidak membahas nafilah al-shubhi dan nafilah al-nahar. Sekarang kita fokus pada bahasan tentang nafilah al-layl. Mungkin suatu saat kita bisa bahas jenis nafilah lain pada kesempatan atau momentum lain, atau bahkan forum berbeda (belum tentu di blog, maksudnya).
Kata nafilah sendiri terdapat dalam Al-Quran, yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut, “Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah sebagai nafilah bagimu…” (QS al-Isra, 17:79).

Berkenaan tentang nafilah al-layl atau tahajjud ini saya mencoba menghimpun beberapa sumber dan mencoba menyimpulkannya sebagai berikut. Sejauh yang bisa ketahui, salat tahajjud yang dilakukan oleh Nabi Saw. adalah sebagai berikut:

  • di rumah (tidak di masjid)
  • sendiri-sendiri (tidak berjamaah)
  • pada sepertiga malam akhir, atau setengah malam akhir, atau mendekati dua pertiga malam (bukan ba`da salat Isya langsung)
  • berjumlah 11 (sebelas) rakaat

Itulah yang relatif lebih disepakati oleh para ulama. Sedangkan perbedaan di antara mereka lebih muncul berkenaan dengan cara salat beliau. Apakah dengan dua rakaat satu salam, ataukah empat rakaat satu salam (tanpa duduk di rakaat kedua)?

Kalau menurut Aisyah, “Pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya Rasulullah Saw. tidak menambahkan lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, jangan kautanya baik dan panjangnya empat rakaat itu. Kemudian beliau salat empat rakaat, jangan kautanya baik dan panjangnya empat rakaat tersebut. Kemudian beliau salat tiga rakaat.” (Muttafaq alayh)

Tetapi dalam riwayat lain Aisyah mengatakan berbeda dari apa yang disampaikan di atas, “Rasulullah Saw. salat malam sebanyak 13 rakaat, (yakni) melakukan witir dengan lima rakaat, di mana beliau tidak duduk kecuali di rakaat terakhir (rakaat kelima dari witir itu). –menurut riwayat ini, jumlah 13 rakaat itu adalah 8 + 5 rakaat witir.

Sedangkan dalam riwayat Ibnu Umar, ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian takut (dua rakaat itu dianggap sebagai) salat subuh, maka hendaknya ia salat lagi satu rakaat yang mengganjilkan rakaat-rakaat salat sebelumnya.” (Muttafaq alayh)

Kedua riwayat Aisyah dan riwayat Ibnu Umar di atas terdapat dalam Bulugh al-Maram, karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Riwayat Aisyah yang pertama juga terdapat dalam buku Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, karya Ibnu Rusyd.

Sedangkan cara salat Rasulullah Saw. yang diriwayatkan melalui jalur Ali bin Abi Thalib yang disebut Nabi Saw. sebagai pintu kota ilmunya (beliau bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya, barangsiapa ingin menuju kota, hendaknya ia masuk melalui pintunya), sebagai berikut:

Salat nafilah al-layl (tahajjud) adalah 11 rakaat, yang terdiri dari:

  • 8 rakaat yang disebut dengan shalat al-layl. Delapan rakaat ini dilakukan dengan cara: setiap dua rakaat diakhiri satu kali salam. Sehingga ada 4 kali salam untuk 8 rakaat. Setiap usai dua rakaat dan salam, disunnahkan (mustahabb) membaca Tasbih al-Zahra (yakni 33 x subhanallah, 33 x alhamdulillah, dan 34 x allahu akbar), dan sujud syukur.
  • Setelah 8 rakaat, kemudian salat dua 2 rakaat yang disebut dengan shalat al-syaf`i (salat genap). Disebut genap karena berjumlah dua rakaat. Diberi jeda waktu antara shalat al-layl yang 8 rakaat dan shalat al-syaf`i yang berjumlah 2 rakaat.
  • Usai shalat al-syaf`i (mudahnya disebut salat syafa`) lalu diakhiri dengan salat witir, yakni 1 rakaat. Disebut witir (ganjil) karena berjumlah ganjil, yakni 1 (satu). Dua rakaat sebelum witir bukan termasuk witir, karena berjumlah dua rakaat. Dua rakaat sebelum witir disebut salat genap, atau shalat al-syaf`i.

Uraian ini disarikan dari buku Miftah al-Jannat, karya Imam Sayyid Muhsin Amin, jilid 1, cetakan Dar al-Ta`aruf li al-Mathbu`at…

Salat witir 1 rakaat itulah yang mengakhiri proses salat Nafilah al-Layl yang sebelas rakaat tersebut. Belum sempurna nafilah al-layl (tahajjud) jika belum diakhiri dengan witir. Jadi, nafilah al-layl adalah satu paket salat sunnah yang rutin dijalankan pada rentang waktu antara tengah malam hingga terbit fajar. Dan salat tersebut terdiri dari 11 rakaat seperti yang disebutkan di muka.

Adapun mengenai caranya, apakah dua rakaat satu salam (2+2+2+2+2+1), ataukah empat rakaat satu salam (4+4+3), manakah yang lebih Anda yakini? Cara yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib –pintu kota ilmu Rasulullah– (yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar), ataukah cara yang diriwayatkan oleh Aisyah? Sepenuhnya diserahkan pada Anda saja…

Wallahu a`lam bi al-shawab



Dikirim pada 16 November 2011 di Artikel
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah Anwar S Fathir ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 103.089 kali


connect with ABATASA