0


Salat tahajjud biasa juga disebut dengan nafilah al-layl. Disebut demikian, karena salat tahajjud merupakan salat sunnah rutin yang khusus dilakukan pada malam hari. Nafilah artinya sesuatu yang disunnahkan, atau tambahan. Selain malam hari, salat nafilah juga ada yang dilakukan pada subuh (yang disebut dengan nafilah al-shubhi) dan siang hari (yang disebut dengan nafilah al-nahar).
Di sini kita tidak membahas nafilah al-shubhi dan nafilah al-nahar. Sekarang kita fokus pada bahasan tentang nafilah al-layl. Mungkin suatu saat kita bisa bahas jenis nafilah lain pada kesempatan atau momentum lain, atau bahkan forum berbeda (belum tentu di blog, maksudnya).
Kata nafilah sendiri terdapat dalam Al-Quran, yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut, “Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah sebagai nafilah bagimu…” (QS al-Isra, 17:79).

Dikirim pada 16 November 2011 di Artikel


Bagaimana jika seseorang sangat ingin salat malam, tetapi ia bangun saat fajar sudah menyingsing, menjelang azan subuh berkumandang?
Atau, ia sangat ingin salat tahajjud, tetapi khawatir tidak bisa bangun pada sepertiga malam akhir, atau khawatir ia bermimpi basah dan saat bangun waktu salat tahajjud telah lewat?
Bolehkah orang dalam kondisi seperti itu memajukan pelaksanaan salat tahajjud sebelum tengah malam, atau sebelum ia tidur? Atau, bolehkah ia mengqadhanya ketika waktu salat tahajjud itu telah lewat?

Untuk menjawabnya, saya mencoba merujuk buku Miftah al-Jannat, karya Imam Sayyid Muhsin Amin (cetakan Beirut Lebanon, jilid 1, hlm. 61).

Dikirim pada 12 November 2011 di Artikel


Salat tahajjud, salat malam, shalat al-layl, atau nafilah al-layl adalah istilah-istilah yang merujuk pada maksud yang sama, yakni salat malam atau tahajjud yang ditegaskan dalam QS al-Isra, 17:79. Sebenarnya shalat al-layl merupakan bagian dari paket salat tahajjud atau nafilah al-layl. Paket nafilah al-layl atau salat tahajjud terdiri dari (1) shalat al-layl (salat malam) yang terdiri dari 8 rakaat, (2) shalat al-syaf`i (salat genap) yang terdiri dari 2 rakaat, dan (3) shalat al-witr (salat witir, yang artinya salat ganjil) yang terdiri dari 1 rakaat. Semuanya berjumlah 11 rakaat.

Dalam pembahasan atau penyebutan, seringkali keempat istilah itu dimaksudkan kepada sesuatu yang sama. Salat malam (shalat al-layl) adalah salat tahajjud, atau nafilah al-layl yang merupakan satu paket salat yang terdiri dari 11 rakaat itu. Yang jelas, salat ini sangat penting dan sangat sayang jika ditinggalkan atau tertinggal, dilewatkan atau terlewat.
Lalu kapankah waktu salat tahajjud (nafilah al-layl) itu?

Dikirim pada 10 November 2011 di Artikel


Tidak diragukan bahwa salat tahajjud atau salat malam sangat ditekankan dalam Islam. Shalat al-layl –istilah lain dari salat tahajjud– merupakan aktivitas qiyam al-layl (bangun malam hari) atau ihya` al-layl al-layl (menghidupkan malam) yang sangat penting yang tidak sepatutnya ditinggalkan oleh seorang Mukmin. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan saat menghidupkan malam, tetapi shalat al-layl adalah yang paling utama harus dilakukan…
Begitu pentingnya, sehingga Nabi Saw. selalu mendawamkannya setiap malam. Begitu istimewanya, sehingga Allah Swt. menegaskannya dalam beberapa ayat-Nya. Dan begitu luar biasanya, sehingga Dia menjanjikan dalam sebuah ayat-Nya maqaman mahmudan, kedudukan yang terpuji kepada yang melakukannya.

Dan dari sebagian malam, maka bertahajjudlah sebagai nafilah bagimu. Semoga Tuhanmu membangkitkanmu di sebuah kedudukan yang terpuji…” (QS al-Isra, 17:79)

Dikirim pada 09 November 2011 di Artikel


Diam bukan emas, kawan! Justru, diam berarti kemalasan, kelemahan, kebodohan, kekalahan, keminderan, kemiskinan, dan ketertindasan. Dimana pun dan kapan pun, kebodohan, kemiskinan, dan ketertindasan hanya terjadi ketika seseorang atau sebuah masyarakat diam dan tidak berusaha untuk keluar dari kondisi yg tidak mengenakkan. Tidak ada kebaikan dan kemajuan yg di peroleh oleh diam.
Mungkin kita berhujah dengan perbahasa yg sudah begitu kental, yakni, “Diam Itu Emas”. Peribahasa ini telah disalahartikan oleh sebagian orang sehaingga kemudian mereka memilih diam ketimbang bergerak. Bagi para pecundang, peribahasa itu telah menjadi MITOS yg memperbodoh dan mencelekakan umat manusia sepanjang sejarah. Bagi mereka, pepatah itu bahkan telah menjadi upaya pembenaran, dalam rangka mencari-cari alas an terhormat untuk menutupi kekurangan dan kelemahan mereka yang naïf dan memalukan.
Padahal, apabila dipahami secara sekilaspun, seharussnya peribahasa itu membuat kita menjadi terpacu untuk bergerak dan dinamis, bukan hanya diam dan menjadi pecundang. Seharusnya, peribahasa itu dipahami secara progresif.

Dikirim pada 08 November 2011 di Diam Musuh Kesuksesan No 1


Orang yang tidak memberi kita kebaikan hari ini, bukan berarti ia tidak mempersembahkan kebaikannya kepada kita.
Mungkin ia telah memberinya kemarin, dan kita sedang melupakannya karena sangat berharap ia memberinya lagi hari ini. Atau mungkin esok hari, dan kita tidak bisa bersabar karena bernafsu ingin menerimanya saat ini juga…

Jangan memvonis seseorang sebagai tidak baik hanya karena ia tidak bisa memenuhi keinginan kita sekarang.
Mungkin sudah banyak kebaikannya yang telah kita terima, bahkan belum sempat kita syukuri apalagi membalasnya.
Jika kita memvonis demikian, justru sebenarnya kitalah yang tidak baik. Sebab kita telah memaksa orang melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan, sementara kita tidak melakukan hal yang sebenarnya bisa kita kendalikan dan lakukan: bersabar

Dikirim pada 07 November 2011 di Artikel


Kerelaan akan membuat hati lapang… Sedangkan keterpaksaan akan membuatnya tidak nyaman… Itulah sebabnya, setiap tindakan seseorang harus dikerjakan dengan kerelaan… Pekerjaan yang dilakukan dengan rela, akan membahagiakan pelakunya, sekalipun pekerjaan itu berat dan memberatkan… Sebaliknya, pekerjaan yang dilakukan dengan terpaksa, akan menjadi tekanan bagi pelakunya, sekalipun pekerjaan itu ringan dan mudah dikerjakan…
Maka… untuk kenyaman hatimu, kerjakan pekerjaan yang membuatmu bahagia, dan tinggalkan pekerjaan yang membuatmu kecewa…
Akan tetapi, sejujurnya ada keterpaksaan yang lebih baik daripada kerelaan… “Terpaksa berbuat baik, lebih baik daripada sukarela berbuat buruk….” Sekalipun keterpaksaan tersebut tidak membuat nyaman, tetapi bisa menyelamatkan….

Dikirim pada 06 November 2011 di Artikel


Sekarang mari kita lihat apa keunggulan dan keutamaan bahasa Arab menurut Al-Quran. Lebih tepatnya, mengapa Al-Quran diturunkan dan dijadikan oleh Allah Swt. sebagai Kitab Suci yang berbahasa Arab? Kita akan segera menemukan jawabannya dari ayat-ayat Al-Quran sendiri.
Setidaknya, Al-Quran menyebutkan tiga fungsi dan tujuan mengapa ia diturunkan dalam bahasa Arab. Fungsi dan tujuan itu sekaligus merupakan keunggulan dan keutamaannya menurut Al-Quran.
1. Berfungsi sebagai Sumber Informasi, Sumber Ilmu)
Haa Miim… Diturunkan dari Zat Yang Maha Rahman dan Rahim… Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya sebagai Al-Quran yang berbahasa Arab, bagi kaum yang MENGETAHUI..
(QS Fushshilat, 41:3)

Dikirim pada 02 November 2011 di Artikel


Islam, baik dalam Al Quran maupun hadis-hadis Nabi saw., memerintahkan umatnya untuk bergerak, melakukan gerakan, beraktivitas dan menciptakan produktivitas. Semua ritual ibadah dalam Islam terdiri atas gerakan, baik gerakan hati (qalb), gerakan verbal (lisan), maupun gerakan anggota tubuh (jawarih).
Syahadat misalnya, adalah aktivitas menggerakkan hati dan bibir, dari kita sebagai individu menuju kesaksian terhadap Zat Tertinggi yang Tak Tertandingi. Syahadat tauhid (asyhadu an la ilaha illallah) adalah kesaksian gerak vertical, yakni gerak menaik, melangit. Sementara syahadat rasul (asyhadu anna muhammadan rasulullah) adalah kesaksian gerak horizontal, yakni mendatar dan membumi.
Demikian juga salat. Dalam salat, kita harus membaca beberapa bacaan tertentu –membaca adalah menggerakan mulut, lidah dan bibir-. Berarti, disitu kita melakukan gerakan. Kita juga harus melakukan gerakan tertentu dengan tubuh kita. Hati kita harus bergerak mengikuti bacaan dan gerak tubuh kita. Salat adalah gerak total yang dilakukan oleh manusia.

Dikirim pada 31 Oktober 2011 di Diam Musuh Kesuksesan No 1


Mahasuci Allah, Zat Penggerak yang bertasbih kepada-Nya semua yang ada di langit dan di bumi; Zat yang memerintahkan manusia untuk berenang dalam tasbih bersama tasbihnya pada malaikat dan seluruh alam semesta, untuk selalu berzikir menggerakan lidah menyebut-Nya; Zat yang memerintahkan umat beriman untuk selalu bershalawat kepada Sang Ideal Kesempurnaan, Muhammad saw., agar mereka terus bergerak menuju kesempurnaan utama; Zat yang telah menggerakkan seluruh wujud semesta dalam poros gerakannya masing-masing; Zat yang telah mengajari manusia untuk berputar, berthawaf di sekeliling Kabah kesempurnaan; Zat yang telah mewajibkan manusia untuk bergerak dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu, dari kehinaan menuju kemuliaan
Mahasuci Allah, Zat penggerak yang tak tergerakkan (The Unmoved Mover); Zat yang selalu sibuk dengan urusan besar setiap saat, kulla yaw-min huwa fi sya’nin; Zat yang senantiasa hidup dan mandiri (Hayyun Qayyum), yang tak pernah tersentuh kantuk dan lelah sedikitpun; Zat yang telah memerintahkan manusia untuk bergerak, berhijrah, bekerja dan berusaha (I’malu), beramal saleh (‘amilushshalihat), dan berkarya terbaik (ahsanu ‘amalan); untuk menjadi orang yang paling bermanfaat; untuk berjihad dengan jiwa dan harta; untuk menembus penjuru-penjuru langit dan bumi;.

Dikirim pada 30 Oktober 2011 di Diam Musuh Kesuksesan No 1
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Anwar S Fathir ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 105.226 kali


connect with ABATASA